Ini ada sebuah kisah yang cukup memilukan tapi inspiratif menurutku. Copas dari catatan FB.
Semoga bermanfaat. :)
Pengumuman
penerimaan SNMPTN tulis telah ada sejak kemarin petang pukul 19.00 WIB.
Beratus ribu pendaftar
terus menongkrongi komputer untuk melihat buah usaha yang mereka
dapat. Sejak pengumuman keluar ada yang senang karena impiannya
terkabul, namun banyak juga yang merasa kecewa dengan hasil dari usaha
mereka yang belum dapat terwujud saat ini.
Bagi mereka yang diterima ini merupakan momen yang menentukan masa depan dan wajib dirayakan, sedangkan bagi yang kurang beruntung mungkin banyak yang lebih
mengurung diri dan tertutup dengan alasan tersebut. Mereka mengeblame diri kenapa harus begini.
Walaupun saya yakin tidak semuanya, bersyukur bagi mereka yang tetap tenang saat ini.
Namun di balik itu semua ada sebuah kisah nyata dan menarik untuk disimak sejenak bagi kita semua tentang ketegaran seorang
gadis desa pendaftar SNMPTN yang dengan tegarnya menjawab dengan tenang bahwa dia ikhlas akan kenyataan bahwa dia
tidak diterima di sebuah
fakultas PTN favorit di Jogja, dan tetap ingin melanjutkan studinya di perguruan tinggi swasta lain
jauh dari impiannya. Dia berasal dari sebuah
desa kecil di Gunungkidul,
dia tepatnya adik kelas saya. Dan dia mengijinkan saya untuk menulis
tentang dia untuk memberikan motivasi bagi mereka yang senasib
dengannya.
Awal setelah kelulusan adik kelas, saya
mendapat kabar dari seorang guru yang selama ini memotivasi saya hingga
sampai pada saya yang sekarang ini bahwa ada bebarapa anak dari SMA
tempat saya dahulu mengejar ilmu ingin mendaftarkan diri di SNMPTN
tulis. Salah satunya adalah wanita tersebut.
Dia dari golongan ekonomi yang kurang mampu yang mencoba sedikit peruntungan dengan mendaftar di PTN yang merakyat.
Bermula dari
uang pendaftaran yang tidak ada, orang tua wanita tersebut
menjual sapi untuk mendapatkan uang pendaftaran. Setelah mendapatkan uang, dia melakukan pendaftaran di
bank mandiri yang jaraknya
22 km
dari tempat tinggal dan yang penuh sesak dengan pendaftar yang lain.
Setelah mendapatkan pin untuk login, ada satu masalah yang harus
ditemui, banyak warnet disekeliling bank, namun tidak ada yang bisa
print. Dan ada masalah lagi pada saat melakukan pengisian SPMA. Isi
form, tetapi saat di print menjadi dua lembar, begitu katanya walau
saya sedikit kurang tahu bagaimana karena jelas berbeda dengan tahun
yang lalu.
Karena ada masalah diatas, daripada
bolak-balik ke warnet, guru saya menyuruh dia untuk pergi ke tempat
tinggal guru saya di Piyungan. Setelah di Piyungan masalah form mau
diselesaikan, tetapi ternyata tidak bisa. Hingga akhirnya ibu guru saya
dan dia
datang secara langsung ke bagian administrasi kampus tersebut. Dan tidak hanya satu kali mengurus, tetapi
berkali-kali bolak-balik sampai akhirnya benar-benar dapat clear.
Setelah semua selesai, satu masalah lagi timbul, yakni tempat
dia akan tinggal selama ujian. Tidak adanya saudara di Jogja membuat
dia terpaksa kost yang jaraknya ke tempat ujian ternyata
masih sangat jauh juga. Dia tidak seperti peserta lain yang diantar,
dia naik bus dengan membawa resiko terlambat. Karena untuk ke tempat ujian dia harus
jalan kaki ke halte bus, setelah itu masih juga harus
berjalan kaki sekitar 1 km setelah turun dari bus ke tempat ujian.
Pada hari pertama ujian dia mengaku
tidak sarapan karena takut ketinggalan bus,
karena jarak kost dan jalan raya yang lumayan jauh, begitu juga pada
seterusnya. Pada saat menunggu hasil pengumuman pun keluarga
mendapatkan cobaan, kakak dari wanita tersebut mendapatkan cobaan harus
operasi dan menelan biaya
14 juta. Dia mengaku itu pun dari hutang. Alhamdulillah tegar sekali. Saat itu dia sudah pasrah, karena saat diterima pun mungkin dia
tidak akan dapat membayar uang registrasi, begitu tuturnya. Setelah ujian dia berniat bayar, namun karena
dikasihani ibu kost dia
tidak disuruh bayar sepeserpun.
Hingga
hari yang ditunggu tiba, saya membukakan hasilnya dengan ijin dari
dia, karena disana jauh dari warnet. Saya pada waktu itu sungguh
berharap akan lolosnya dia, melihat bagaimana
usahanya dari awal. Bagaimana dia
memaksimalkan ujian nasional, dan berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Namun kenyataan berbicara lain, ada suatu rencana lain yang mengharuskan dia untuk tidak kuliah di kampus impiannya. Walau begitu,
dia berkata tetap ikhlas akan semuanya dan berencana
mencoba ke kampus lain yang memiliki
biaya murah atau bahkan jika bisa
tanpa biaya khusus untuk dia mengingat kondisi ekonomi dan cobaan yang baru datang.
Bagi anda yang mungkin tidak diterima, cobalah hayati kisah nyata di atas.
Mencobalah untuk tegar, sebagaimana wanita tersebut.
Usaha keras yang lalu jadikan evaluasi dan motivasi untuk lebih maju kedepannya.